Total Pageviews

15/11/2010

KEBUDAYAAN MESOLITHIKUM

-->
KEBUDAYAAN MESOLITHIKUM
Mesolithikum atau sering pula disebut sebagai zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan berlangsung selama kira-kira 140 juta tahun, antara 251 hingga 65 juta tahun yang lalu. Pada zaman pertengahan ini, reptil besar berkembang dan menyebar ke seluruh dunia sehingga pada zaman ini sering pula disebut sebagai zaman reptil.
Ciri-ciri dari zaman batu tengah.
§ Berburu dan menangkap ikan.
§ Hidup mulai menetap (semi sedenter) di gua-gua (Abris souc Roche).
§ Peralatan masih terbuat dari batu atau tulang yang masih kasar.
§ Mengenal seni yg berupa lukisan di dinding goa yg berbentuk cap tangan & babi hutan.
§ Meninggalkan sampah dapur (kjokken moddinger), ditemukan di pesisir pantai timur Pulau Sumatera yang kemudian diteliti oleh Dr. P.V Van Stein Callenfels pada tahun 1925.
§ Ditemukan kapak genggam (pebble) dan kapak pendek (hache courte), karena ditemukan di daerah Sumatra, maka dinamakan sumatralith.
§ Ditemukan Abris Sous Roche, goa sbg tempat tinggal manusia purba.
§ Didalam goa juga ditemukan alat-alat berupa mata panah, flakes, betu penggilingan & kapak batu.
§ Sudah mengenal kepercayaan.
Peninggalan Flakes & Pebble ditemukan di daerah :
a) Timor & Rote oleh Alfred Buhler. Flakes yg ditemukan sudah bertangkai.
b) Bandung (penemuan flakes terbesar) meliputi Padalarang, Bandung Utara, Cicalengka, Banjaran & Soreang ditemukan oleh Von Koenigswald dan disebut Kebudayaan Danau Bandung.
c) Doa Leang Patta E di Toala (Sulawesi Selatan) oleh Van Stein Callenfels dan disebut Kebudayaan Toala.

1) Kehidupan sosial
Ciri utama peradaban zaman ini adalah manusia telah bertempat tinggal tetap. Para ahli ilmu purbakala menyebutkan bahwa zaman ini berlangsung kurang lebih 20.000 tahun silam dan dianggap sebagai perkembangan “yang lebih cepat” daripada zaman batu tua. Manusia pendukung zaman ini juga bertempat tinggal di gua yang disebut peradaban “abris sous roche”.
2) Hasil kebudayaan
Ciri utama kehidupan zaman ini adalah peninggalan sampah dapur yang menurut penemuanya disebut kjokkenmoddinger. Peradaban ini ditemukan di sepanjang Pantai Timur Sumatra, dari Aceh sampai Sumatra bagian tengah. Di sepanjang pantai tersebut ditemukan tumpukan sampah berupa kulit siput dan kerang. Diduga sampah tersebut dibuang dari tempat tinggal mereka dari generasi yang satu ke generasi yang lain sehingga menumpuk. Tumpukan sampah itu disebut kjokkenmoddinger.
3) Keberadaan teknologi
Dari tempat sampah dapur tersebut ditemukan juga kapak genggam yang disebut pebble. Mereka juga menggunakan batu pipih dan batu landasan untuk menggiling makanan serta membuat cat yang diperkirakan ada kaitannya dengan kepercayaan mereka. Mereka menggunakan batu yang lebih halus serta panah bergigi yang terbuat dari tulang-tulang hewan untuk berburu binatang. Mereka juga telah mengenal seni yang berkaitan dengan kepercayaan mereka, seperti gambar dari lukisan tangan berwarna merah dari dinding gua.
4) Manusia pendukung
Manusia pendukung peradaban ini juga menggunakan flake dan microlith atau batu-batu pipih, segitiga dan trapesium yang ukurannya kecil. Batu-batu itu diperkirakan berfungsi sebagai alat pemotong benda-benda yang lunak, seperti daging buruan atau ubi-ubian. Benda-benda tersebut banyak ditemukan di dataran tinggi Bandung. Para ahli arkeologi dan geologi berpendapat bahwa pada zaman mesolitikum ini, Bandung yang dikenal sekarang merupakan sebuah danau besar yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Tepian danau tersebut merupakan tempat tinggal manusia pendukung peradaban zaman batu tengah (mesolitikum) dan menggunakan alat flake dan microlith.
1. Kebudayaan Bacson-Hoabinh
Istilah Bacson-Hoabinh ini dipergunakan sejak tahun 1920-an yaitu untuk menunjukan suatu tempat pembuatan alat-alat batu yang khas dengan ciri dari peninggalan kebudayaan Bacson-Hoabinh, ditemukan di seluruh wilayah Asia Tenggara hingga Myanmar (Burma). Di barat dan ke utara hingga propinsi-propinsi selatan dan kurun waktu antara 18000 dan 3000 tahun yang lalu. Namun pembuatan kebudayaan Becson-Hoabinh masih terus berlangsung di beberapa kawasan, sampai masa yang lebih baru. Ciri khas alat batu kebudayaan Bacson-Hoabinh adalah penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan batu kali yang berukuran lebih kurang satu kepala. Hasil penyerpihannya itu menunjukan berbagai berbentuk seperti lonjong, segiempat, segitiga dan beberapa diantaranya mempunyai bentuk pinggang. Menurut CF Gorman penemuan alat-alat batu paling banyak ditemukan dalam penggalian pegunungan di Batu Kapur daerah Vietnam bagian utara, yaitu di daerah Bacons Pegunungan Hoabinh. Di samping alat-alat dari batu, ditemukan juga alat-alat serpih, batu giling dari berbagai ukuran, alat-alat dari tulang dan sisa tulang belulang manusia yang dikubukan dalam posisi terlipat serta ditaburi zat warna merah. Sementara itu,di daerah Vietnam ditemukan tempat-tempat pembuatan alat-alat batu, sejenis alat-alat batu dari kebudayaan Bacson-Hoabinh. Bahkan di Gua Xom Trai ditemukan alat-alat batu yang sudah diasah pada sisi yang tajam. Alat-alat batu dari gua Xom Trai diperkirakan berasal dari 18000 tahun yang lalu. Kemudian dalam pengembanannya, alat-alat batu tersebar dan berhasil ditemukan hampir di seluruh daerah Asia Tenggara, baik daratan maupun kepulauan termasuk wilayah Indonesia. Di daerah Indonesia, alat-alat dari kebudayaan Bacson-Hoabinh dapat ditemukan di daerah Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi sampai ke Papua (Irian Jaya). Di daerah Sumatra, alat-alat batu sejenis kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di Lhokseumawe dan Medan. Benda-benda itu berhasil ditemukan pada bukit-bukit sampah kerang yang berdiameter 100 meter dan kedalaman 10 meter. Lapisan kerang tersebut di selang-seling dengan tanah dan abu. Di daerah Jawa, alat-alat kebudayaan batu sejenis dengan kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di daerah lembah Sungai Bengawan Solo. Penemuan alat-alat dari batu ini ketika dilakukan penggalian untuk menemukan fodil-fosil manusia purba. Peralatan batu yang berhasil ditemukan memiliki usia jauh lebih tua dari peralatan batu yang ditemukan pada Bukit Sampah Kerang di Sumatra. Hal ini terlihat dari cara pembuatannya. Peralatan batu yang berhasil ditemukan di daerah Lembah Bengawan Solo dibuat dengan cara sangat sederhana dan belum diserpih atau diasah. Batu kali yang dibelah langsung digunakannya dengan cara digenggam. Bahkan menurut Von Koenigswald, peralatan dari batu itu digunakan oleh manusia purba Indonesia jenis pithecantropus erectus. Berdasarkan penelitiaanya, peralatan batu itu berasal dari daerah Bacson-Hoabinh. Di daerah Cabbenge juga ditemukan alat-alat batu yang berasal dari Kala Pleistosen dan Holosen. Penggalian dalam upaya untuk menemukan alat-alat dari batu juga dilakukan di daerah pedalaman sekitar Maros. Dari beberapa tempat penggalian, berhasil menemukan alat dari batu toalian diperkirakan berasal dari 7000 tahun yang lalu. Perkembangan peralatan batu dari daerah Marpos ini, diperkirakan kemunculannya bertumpang tindih dengan munculnya tembikar di kawasan tersebut. Di samping daerah-daerah tersebut, peralatan dari batu kebudayaan Bacson-Hoabinh juga berhasil ditemukan pada daerah-daerah pedalaman Semenanjung Minahasa, Flores, Maluku Utara, dan daerah lain di Indonesia.
a. Kapak genggam
Kapak genggam yang ditemukan di dalam Bukit Kerang tersebut dinamakan dengan pebble atau kapak Sumatera (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu di Pulau Sumatera. Bentuk pebble dapat dikatakan sudah agak sempurna dan buatannya agak halus. Bahan untuk membuat kapak tersebut berasal dari batu kali yang dipecah-pecah.
b. Kapak dari tulang dan tanduk
Di sekitar daerah Nganding dan Sidorejo dekat Ngawi, Madiun (Jawa Timur) ditemukan kapak genggam dan alat-alat dari tulang dan tanduk. Alat-alat dari tulang tersebut bentuknya ada yang seperti belati dan ujung tombak yang bergerigi pada sisinya. Adapun fungsi dari alat-alat tersebut adalah untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah, serta menangkap ikan.
c. Flakes Flakes berupa alat-alat kecil terbuat dari batu yang disebut dengan flakes atau alat serpih. Flakes selain terbuat dari batu biasa juga ada yang dibuat dari batu-batu indah berwarna seperti calsedon. Flakes mempunyai fungsi sebagai alat untuk menguliti hewan buruannya, mengiris daging atau memotong umbi-umbian. Jadi, fungsinya seperti pisau pada masa sekarang. Selain ditemukan di Sangiran, flakes ditemukan di daerah-daerah lain seperti Pacitan, Gombong, Parigi, Jampang Kulon, Ngandong (Jawa), Lahat (Sumatera), Batturing (Sumbawa), Cabbenge (Sulawesi), Wangka, Soa, dan Mangeruda (Flores).
2. Kebudayaan Bandung
3. Kebudayaan Toala (Sulawesi Selatan) Tokoh penemunya adalah P.V. Van Stein Callenfels.
tp4a5aef6e6ff36.jpgsej101_05.gif
KJOKKENMODINGER
(kjokken=dapur, modding=sampah)
· Pebble culture/Kapak Sumatra
· Hache culture/Kapak pendek
· Pipisan
ABRISSOUSROCHE
· Flakes
· Lukisan dinding gua
· Sampung bone culture/alat-alat tulang
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...