Total Pageviews

15/11/2010

Masa Pra-Aksara


TRADISI SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA SEBELUM MENGENAL TULISAN
Dalam mengkaji perkembangan kehidupan masyarakat, para ahli mengelompokan dalam dua kategori yaitu pra aksara (prasejarah) dan masa aksara (sejarah). Zaman dimana manusia belum mengenal tulisan disebut dengan pra sejarah (praaksara) dan zaman setelah manusia mengenal tulisan disebut masa aksara (masa sejarah). Jadi batasan antara zaman pra aksara dengan zaman aksara terletak pada ada tidaknya tulisan dalam suatu kelompok masyarakat. Namun perlu diingat bahwa kemampuan masyarakat untuk mengenal tulisan, di setiap daerah berbeda-beda. Hal tersebut tergantung pada kemampuan masyarakatnya, yang mungkin juga dipengaruhi oleh faktor geografis. Misalnya saja negara Mesir, negara ini sudah mengenal aksara dari zaman sebelum Masehi, sedangkan negara lain baru mengenal aksara pada ± abad ke-5 Masehi.
1. Cara Masyarakat yang Belum Mengenal Tulisan Mewariskan Masa Lalunya
Bagi masyarakat modern sekarang ini, tentu tidak akan mengalami kesulitan untuk mewariskan apa yang dimilikinya, karena sudah ada tulisan untuk mewariskannya kepada generasi yang akan datang. Namun bagaimana dengan masyarakat yang belum mengenal tulisan?
Oleh karena belum ada tulisa sebagai sarana pewarisan, maka masyarakat yang belum mengenal tulisan mewariskan kebudayaannya melalui hasil-hasil kebudayaan maupun disampaikan secara lisan dan di wariskan secara turun-temurun. Pewarisan tersebut dapat di sampaikan melalui keluarga maupun melalui masyarakat.
a. Pewarisan Tradisi mMelalui Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan sosial masyarakat yang paling kecil. Keluarga sekaligus juga menjadi tempat yang pertama bagi pewarisan tradisi dalam suatu masyarakat.
Nilai-nilai tradisional yang dapat diwariskan melalui keluarga tentunya diawali dari tingkat yang paling sederhana. Hal-hal yang dapat diwarikan melaui keluarga ini misalnya adalah bahasa, norma-norma sosial, kepercayaan, cerita, dongeng. Norma yang disampaikan melalui keluarga dapat mencakup kebiasaan (folksway) adapt-istiadat (mores), dan hukum. Contoh pewarisan adapt-istiadat atau tradisi dalam keluarga misalnya meberima sesuatu dengan tangan kanan, mengatuk pintu sebelum masuk rumah orang lain, dan sebagainya. Dapat juga norma-norma masyarakat disampaikan melalui dongeng, misalnya dongeng bawang merah dan bawang putih. Dongeng tersebut biasanya disisipi dengan pesan-pesan mengenai sesuatu yang dianggap baik.
b. Pewarisan Melalui Masyarakat
Setelah keluarga, lingkungan berikutnya yang dikenal oleh anak adalah masyarakat. Suatu kelompok masyarakat tentunya memiliki kesamaan budaya, wilayah, dan identitas yang saling dibutuhkan oleh warga masyarakatnya.
Masyarakat dapat mewariskan masa lalunya kepada generasi penerus melalui adat istiadat seperti gotong royong, pertnjukan hiburan seperti seni wayang, dan juga kepercayaan masyarakat seperti animisme dan dinamisme.
Tradisi masyarakat dapat juga kita temukan dalam warisan budaya yang lain seperti permainan rakayat, cerita rakyat, puisi rakyat, dan sebagainya.
Dari hasil-hasil kebudayaan itulah seorang sarjana Belanda menyimpulkan bahwa dalam kehidupan masyarakat Indonesia sebelum masuknya Hindu dan Budha atau sebelum mengenal tulisan, telah memiliki 10 unsur kebudayaan asli Indonesia yaitu :
1. Bercocok tanam padi di sawah.
2. Mengenal prinsip dasar permainan wayang, dengan maksud untuk mendatangkan roh nenek moyang.
3. Mengenal seni gamelan yang terbuat dari perunggu.
4. Pandai membatik (tulisan has).
5. Pola susunan masyarakat mancapat, susunan suatu ibukota selalu terdapat tanah lapang atau alun-alun yang dikelilingi oleh istana (keraton), bangunan tempoat pemujaan atau upacara agama, sebuah pasar, dan sebuah penjara.
6. Telah mengenal alat ukur dalam perdagangan.
7. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam pelayaran.
8. Mengenal pengetahuan astronomi.
9. Membuat barang-barang dari logam, terutama perunggu.
10. Susunanmasyarakat yang teratur.
Dua hal tersebut kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat bangsa Indonesia pada saat itu adalah :
1. Masyarak agraris religius dan bercocok tanam padi.
2. memiliki tingkat peradaban yang tinggi dalam bidang perundagian dan pelayaran.
3. Hidup dalam kelompok berdasarkan kehidupan gotong royong, musyawarah dan mufakat.
4. Merupakan masyarakat komunial dengan asas kesejahteraan bersama.
a. Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan dalam masyarakat Indonesia diperkirakan mulai tumbuh pada masa berburu dan mengumpulkan makanan. Bukti bahwa masyarakat pada masa itu sudah mengenal kepercayaan dapat kita lihat pada penemuan lukisan-lukisan pada dinding goa di Sulawesi Selatan yang berbentuk cap tangan. Bukti lain juga tampak pada tradisi megalitik yang ditunjukan bagi penghormatan terhadap roh nenek moyang. Secara umum kepercayaan mereka dikategorikan sebagai kepercayaan animisme dan dinamisme.
b. Sistem Kemasyarakatan
Setelah masyarakat mulai hidup menetap dalam kelompok yang cukup besar maka mereka mulai membuat aturan-aturan yang disepakati bersama. Mereka juga mulai memilih pemimpin sebagai penjamin ditaatinya aturan yang telah mereka sepakati.
c. Pertanian
Sistem persawahan mulai dikenal bangsa Indonesia sejak zaman Neolitikum yakni sejak manusia menetap secara permanen (sedenter). Kehidupan gotong royong mulai teraktualisasikan dalam sistem persawahan ini.
d. Kemampuan berlayar
Teknologi pelayaran sudah dikenal sejak lama sebagai sarana perhubungan. Perahu bercadik merupakan model yang dikenal zaman pengaruh Hindu-Budha. Cadik adalah bambu atau kayu yang dipasang di kiri kanan perahu agar tidak mudah terbalik.
e. Sistem Bahasa
Bahasa yang berkembang di wilayah Indonesia termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu Austronomia. Dalam perkembangannya Bahasa Melayu mendapat pengaruh dari bahasa Sansekerta.
f. Ilmu Pengetahuan
Perkembangan ilmu pengetahan secara lain diawali dengan pemanfaatan angina musim dalam kegiatan pelayaran. Mereka juga mengenal ilmu Astronomi sebagai petunjuk arah dalam pelayaran atau petunjuk waktu dalam bidang pertanian.
g. Organisasi Sosial
Ditandai dengan munculnya kelompok suku-suku. Mereka hidup bergotong royong dalam suatu kelomp[ok suk.
h. Teknologi
Sejak masa prasejarah masyarakat Indonesia telah mengenal teknologi peralatan dari batu. Hal tersebut terus berkembang dengan dikenalnya teknik pengecoran logam untuk memnuat peralatan rumah tangga. Mereka juga sudah mengenal pembuatan perahu bercadik yang merupakan sarana perhubungan antar pulau.
i. Sistem ekonomi
Masyarakat telah melakukan perdagangan antarpulau dengan menetapkan sistem barter yaitu pertukaran barang dengan barang.
j. Kesenian
Kehidupan yang menetap dan teratur memungkinkan mereka memiliki waktu luang. Waktu inilah yang mereka perunakan untuk mewujudkan jiwa seni mereka seperti membuat batik, seni wayang, dan lain-lain.
Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa sebelum mengenal tulisan masyarakat mewariskan masa lampaunya melalui tradisi lisan, hasil-hasil kesenian, dan peninggalan berupa benda.
2. Jejak Sejarah dalam Folklore, Mitologi, Legenda, Upacara, dan Lagu Rakyat
a. Folklore
Folklore berasal dari bahasa Inggris, yang berarti tradisi kolektif atau tradisi masyarakat tertentu. Hal tersebut meliputi aspek material, spiritual, dan verbal dari suatu kebudayaan yang ditransmisikan secara oral melalui pengamatan atau penurunan.
Folklore dapat dijadikan sebagai pencerminan angan-angan suatu kelompok, alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebuyaan, alat pendidikan anak-anak, dan sebagai alat pemaksa serta penggagas norma-norma masyarakat agar selalu dipatuhi oleh anggota kelompoknya/kolektifnya.
1. Penyebarannya dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan;
2. Bersifat anonm;
3. Mempunyai kegunaan bagi kehidupan kolektif pendudukya;
4. Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika tersendiri yang tidak sesuai dengan logika ilmu pengetahuan.
5. Menjadi milik bersama (kolektif) kelompok tertentu;
6. Memiliki bentuk yang biasa berumus atau berpola;
7. Bersifat tradisional;
8. Umumnya bersifat polos dan lugu walaupun seringkali kelihatan kasar dan terlalu spontan.
Menurut Jon Harold Brunvand, folklore digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Folklore lisan (Verbal Folklore) yang bentuknya murni lisan. Contoh folklore lisan misalnya : bahasa rakyat seperti logat, pangkat tradisional. Sedangkan dalam ungkapan puisi rakyat seperti pantun, gurindam, dan syair. Cerita prosa rakyat seperti mite, legenda dan dongeng, nyanyian rakyat.
2. Folklore sebagian lisan: yaitu merupakan campuran antara unsur lisan dan bukan lisan. Termsuk di dalam folklore sebagian lisan ini misalnya : kepercayaan rakyat, permainan rakyat, tari rakyat, adat istiadat, upacara pesta rakyat.
3. Folklore bukan lisan yakni folklore yang berbentuk bukn lisan, walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Folklore bukan lisan di bedakan menjadi dua yakni materiil misalnya arsitektur rakyat, kerajinan tangan rakyat, dan yang bukan material misalnya : bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat seperti bunyi kentongan sebagai tanda bahaya.
b. Mitologi
Mitologi merupakan cerita rakyat yang umunya berhubugan dengan kehidupan para dewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan. Mitologi secara umum memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Berbentuk sastra yang berupa cerita prosa rakyat
2. Ceritanya dianggap benar-benar terjadi.
3. Ceritanya dianggap suci oleh masyarakat pendukungnya.
4. Umumnya menceritakan tentang terjadinya alam dan gejala-gejala alam.
5. berisi tentang keajaiban-keajaiban.
c. Legenda
Legenda merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap pernah terjadi oleh masyarakat pendukungnya. Namun berbeda dengan mite, legenda tidak dianggap sebagai cerita suci.
Macam-macam legenda yaitu :
1. Legenda keagaaman
Mengisahkan tentang orang-orang suci dalam suatu agama. Misalnya kisah walisongo dengan kelebihan-kelebihannya.
2. Legenda perseorangan
Yaitu cerita tentang tokoh-tokoh tertentu yang dianggap benar-benar terjadi, misalnya : kisah tokoh Panji dan Kerajaan Kahuripan
3. Legenda alama gaib
Dianggap benar-benar telah terjadi dan pernah dialami seseorang misalnya tentang hantu, siluman.
4. Legenda setempat
Yaitu cerita yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat dan topografi. Misalnya legenda asal-muasal Banyuwangi, Rorojonggrang, Tangkuban Parahu, Rawa Pening, dan sebagainya.
d. Upacara
Upacara pada umumnya digunakan untuk mengenang suatu peristiwa tertentu pada suatu daerah. Misalnya upacara labuhan di laut Selatan seperti Parang Tritis. Upacara tersebut dimaksudkan sebgai tolak bala dan memperoleh keselamatan. Hal tersebut dilakukan dengan mengirimkan benda-benda sesaji.
e. Lagu rakyat
Pada dasarnya mrupakan puisi namun umumnya dinyanyikan dalambentuk lisan. Lagu rakyat ini umumnya berkembang dan bertahan lama dalam masyarakat dan bisa dinikmati oleh siapa pun. Nyanyian rakyat ini umumnya juga tidak diketahui siapa pengerangnya. Nyanyian rakyat juga dapat bertema lagu-lagu permaianan seperti lagu jamuran di Jawa, nyanyian rakyat yang lainnya misalnya Nina Bobok, dan lain sebagainya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...