Total Pageviews

15/11/2010

Sriwijaya

Sriwijaya
Dalam sejarah Indonesia ada dua kerajaan kuno yang disebutkan sebagai kerajaan-kerajaan yang megah dan jaya, yang melambangkan kemegahan dan kejayaan Indonesia di zaman dulu. Kedua kerajaan itu adalah Sriwijaya dan Majapahit.
1 . Faktor-faktor Pendorong Perkembangan Kerajaan Sriwijaya.
a. Letak yang Strategis
Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar yang bukan saja dikenal di wilayah Indonesia , tetepi dikenal di setiap bangsa atau negara yang berada jauh di luar Indonesia. Hal ini disebabkan letak Kerajaan Sriwijaya yang sangat strategisdan dekat dengan selat malaka. Telah kita ketahui, Selat Malaka pada saat itu merupakan jalur perdagangan yang sangat ramai dan dapat menghubngkan antara pedagang-pedagang dari Cina dengan India maupun Romawi.
Keberhasilan Kerajaan Sriwijaya menguasai perairan yang stretegis di Selat Malaka, Selat Sunda, Semenanjung Malaya dan Tanah Genting Kra, dilihat dari segi perdagangan dan militer sangat menguntungkan. Hal itulah yang kemudian mendorong Kerajaan Sriwijaya berkembang pesat antara India dan Cina.
b. Kemajuan Kegiatan Perdagangan antara India dan Cina
Semakin pesatnya perkembangan perdagangan yang dilakukan India dan Cina melalui Selat Malaka membuat posisi Sriwijaya semakin penting . Pedagang-pedagang dari Cina dan India yang melewati selat malaka selalu singgah di pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Sriwijaya. Hal itu membawa keuntungan yang besar bagi Sriwijaya. Perdagangan Sriwijaya mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Perkembangan itu didukung dengan melimpahnya hasil bumi sebagai mata dagangan yang berharga , terutama rempah-rempah dan emas.

c. Keruntuhan Kerajaan Fu-Nan
Pada awal abad ke-7 M, Kerajaan Fu-Nan yang berada di daerah Indo-Cina mengalami keruntuhan akibat perang saudara. Kedudukannya sebagai kerajaan maritim yan memegang peranan penting dalam percaturan politik di Asia Tenggara selama enam abad diambil alih oleh Kerajaan Sriwijaya.
2. Sumber Sejarah
Berita Asing
Berita Arab.
Dari berita Arab dapat diketahui bahwa banyak pedagang Arab yang melakukan kegiatan perdagangan di Kerajaan Sriwijaya. Bahkan di Pusat Kerajaan Sriwijaya ditemukan perkampungan-perkampungan orang-orang Arab sebagai tempat tinggal sementara. Keberadaan Kerajaan Sriwijaya juga diketahui dari sebutan orang-orang Arab terhadap Kerajaan Sriwijaya seperti Zabaq,Sabay atau Sribusa.
Berita india.
Dari berita India dapat diketahui bahwa raja dari kerajaan Sriwijaya pernah menjalin hubungan dengan raja-raja dari kerajaan yang ada di India seperti Kerajaan Nalanda dan Kerajaan Chola.
Berita Cina
Dari berita Cina, dapat diketahui bahwa pedagang-pedagang Kerajaan Sriwijaya telah menjalin hubungan perdagangan dengan pedagang-pedagang Cina. Para pedagang Cina sering singgah di Kerajaan Sriwijaya untuk selanjutnya meneruskan perjalanannya ke India maupun Romawi.
Berita dalam Negeri
Prasasti kedudukan Bukit
Prasasti ini ditemukan di Kedudukan Bukitdi tepi Sungai Tatang, dekat Palembang, dan ber-angka tahun 605 C ( Saka) atau tahun 683 M.
Prasasti Talang Tuwo
Prasasti ini ber-angka tahun 606 C (684 M), ditemukan di desa Gandus di daerah Talang Tuwo, sebelah barat kota Palembang. Prasasti ini menyebutkan tentang pembuatan Taman Srikeserta atas perintah Raja Dapunta Hyang.
Prasasti Kota Kapur
Prasasti yang ber-angka 608 C (686 M) ini ditemukan di Kota Kapur di Pulau Bangka. Prasasti ini juga menyebutkan adanya ekspedisi Sriwijaya ke daerah sebrang lautan (pulau jawa) untung memperluas kekuasaannya dengan menundukkan kerajaan-kerajaan disekitarnya, seperti melayu, Tulang Bawang, dan Tarumanegara.
Prasasti Telaga Batu
Prasasti yang berbentuk batu lempeng mendekati segi lima ini tidak ber-angka tahun, namun diperkirakan sezaman dengan Prasasti Kedudukan Bukit dan Talang Tuwo, yaiutu dari abad ke-7 M. Prasasti ini berhuruf Palawa dan berbahasa Melayu Kuno ini ditemukan di daerah Palembang.
Prasasti Karang Brahi
Prasasti yang ber-angka tahun 608 C (686 M ) ditemukandi daerah Jambi, yang menunjukkan penguasaan Kerajaan sriwijaya atas daerah itu.
Prasasti Ligor
Prasasti yang ber-angka tahun 697 C (775 M) ini ditemukan di Tanah Genting Kra di daerah Ligor.
Prasasti Nalanda
Prasasti ini menyebutkan Raja Balaputra Dewa sebagai raja terakhir dari Dinasti Syailendra yang terusir dari Jawa Tengah akibat kekalahannya melawan Kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya. Dalam prasasti itu, Balaputra Dewa meminta kepada Raja Nalanda agar mengakui haknya atas Dinasti Syailendra. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5 desa dari pajak untuk membiayai para mahasiswa Sriwijaya yang belajar di Nalanda.
3. Kehidupan Politik
a. Raja Dapunda Hyang
Berita mengenai raja ini diketahui melalui Prasasti Kedudukan Bukit (683M). Pada masa pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang telah berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Jambi. Sejak awal pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang telah mencita-citakan agar Kerajaan Sriwijaya menjadi Kerajaan Maritim.
b. Raja Balaputra Dewa
Pada masa Balaputra Dewa, Kerajaan Sriwijaya mengalami masa kejayaannya. Pada awalnya , Raja Balaputra Dewa adalah Raja dari Kerajaan Syilendra ( di Jawa Tengah). Ketika terjadi perang saudara di Kerajaan Syailendra antara Balaputra Dewa dan Pramordhawardani (kakaknya) yang dibantu oleh Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya), Balaputra Dewa mengalami kekalahan. Akibat kekalahan itu, Raja Balaputra Dewa lari ke Sriwijaya. Di kerajaan Sriwijaya berkuasa Raja Dharma Setru ( kakak dari ibu Raja Balaputra Dewa) yang tidak memiliki keturunan, sehingga kedatangan Raja Balaputra Dewa disambut baik . Kemudian ia diangkat menjadi Raja.
Pada masa pemerintahan Raja Balaputra Dewa, Keeajaan Sriwijaya berkembang pesat. Raja Balaputra Dewa meningkatkan kegiatan pelayaran dan perdagangan rakyat Sriwijaya.
c. Raja Sanggrama Wijayattunggawarman.
Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya mengalami ancaman dari Kerajaan Chola. Di bawah Raja Rajendra Chola, kerajaan Chola melakukan serangan dan berhasil merebut Kerajaan Sriwijaya. Raja Sanggrama Wijayattunggawarman berhasil ditawan. Namun pada masa Raja Kulotungga I di kerajaanChola Raja Sanggrama Wijayattunggawarman dibebaskan kembali.
4. Wilayah Kekuasaan Kerajann Sriwijaya
Pada awal pemerintahannya , Kerajaan Sriwijaya mengadakan perluasan wilayah kekuasaan ke daerah-daeha sekitarnya. Pada akhir abad ke-8 M, Kerajaan Sriwijaya telah berhasil menguasai seluruh jalur perdagangan di Asia Tenggara, baik yang melalui selat Sunda maupun Selat Malaka, Selat Karimata, dan Tanah Genting Kra. Dengan wilayah kekuasaan itu , Kerajaan Sriwijaya menjadi Kerajaan Laut terbesar di Asia Tenggara.
5. Hubungan Luar Negeri
a. Sriwijaya dan Pala
Sekitar abad ke-8 M hingga ke-11 M daerah Benggala diperintah oleh raja-raja dari Dinasti Pala. Seorang rajanya yang terbesar bernama Raja Dewa Paladewa. Hubungan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Pala amat baik, terutama dalam bidang keagamaan dan budaya. Hubungan baik ini dibuktikan dengan Prasasti Nalanda.
b. Sriwijaya dan Cholamandala
Pada awalnya hubungan kedua kerajaan itu mat baik, raja Sriwijaya yang bernama Raja Sanggrama Wijayattunggawarman mendirikan satu biara di Kerajaan Chola untuk tempat tinggal para bhiksu dari kerajaan Sriwijaya.
Persahabatan kedua kerajaan berubah menjadi permusuhan akibat persaingan di bidang pelayaran dan perdagangan. Raja Rajendra Chola yang berkuasa di Kerajaan Chola melakukan dua kali serangan ke Kerajaan Sriwijaya. Serangan pertama pada tahun 1007 M mengalami kegagalan. Namun, serangan kedua (1023/1024 M) berhasil merebut kota dan bandar-bandar penting Kerajaan Sriwijaya, bahkan Raja Sanggrama Wijayattunggawarman berhasil ditawan.
Walaupun serangan Kerajaan Chola tidak mematikan Kerajaan Sriwijaya namun untuk sementara kekuatan Sriwijaya lumpuh.

6. Mundurnya Kerajaan Sriwijaya
a. Faktor Politik
Kedudukan Kerajaan Sriwijaya makin terdesak, karena munculnya kerajaan-kerajaan besar yang juga memiliki kepentingan dalam dunia perdagangan, seperti Kerajaan Siam di sebelah utara. Kerajaann Siam berhasil mengambil tanah genting dari Kerajaan Sriwijaya, dan itu mengakibatkan kegiatan perdagangan di Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang.
Dari daerah timur, Kerajaan Sriwijaya terdesak oleh perkembangan Kerajaan Singasari, yang diperintah oleh Raja Kertanegara yang bercita-cita ingin menguasai seluruh wilayah Nusantara.
b. Faktor Ekonomi
Para pedagang yang melakukan aktivitas perdagangan di Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang, karena daerah-daerah yang strategis telah dikuasai Kerajaan lain. Akibatnya, para pedagang yang melakukan penyebrangan ke Tanah Genting Kra atau melakukan kegiatan ke daerah Melayu (sudah dikuasai Kerajaan Singasari) tidak lagi melewati wilayah kekuasaan Sriwijaya. Keadaan ini mengurangi sumber pendapatan kerajaan.
Denagn alasan faktor politik dan ekonomi, maka sejak abad ke-13 M kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan kecil dan wilayahnya terbatas pada daerah Palembang. Kerajaan Sriwijaya yang kecil dan Lemah akhirnya dihancurkan oleh kerajaan Majapahit tahun 1377 M.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...