Total Pageviews

20/03/2013

Manipulasi atau Korupsi Berjamaah



Terungkapnya berbagai tindak korupsi dan manipulasi menunjukkan fenomena yang sudah akut berlangsung di negeri ini. Merunut akarnya sesungguhnya tidak sulit, salah satunya adalah, "pengkondisian" dan pembentukan "karakter" yang salah kaprah dalam dunia pendidikan. Pendidikan yang seharusnya membentuk generasi muda yang berkualitas (baca: cerdas dan tercerahkan) tetapi dalam prakteknya seringkali tidak demikian.



Saat penulis mencermati pelaksanaan Ujian Nasional, ditemukan adanya pola yang sama dalam praktek manipulasi di sekolah dengan manipulasi tindak korupsi, misalnya kasus Malinda Dae. Ujian nasional diadakan untuk mengukur kualitas pendidikan sekaligus menjadi syarat kelulusan. Tahun ini diberlakukan, 60% nilai ditentukan pihak sekolah berdasar nilai Semester 1 s/d 5, nilai ujian praktek, ujian tertulis, ditambah 40% nilai Ujian Nasional. Dengan ketentuan ini, banyak sekolah yang kemampuan siswanya menengah kebawah, "berlomba-lomba" menambah/mengangkat nilai-nilai Sekolah untuk antisipasi anjloknya nilai Ujian. Bila sesungguhnya nilai sekolah hanya 6,00, maka akan diupayakan menjadi 8,50 (manipulasi). Sehingga saat Ujian Nasional tidak terlalu berat supaya dapat mencapai rata-rata akhir di atas 5,5 sebagai syarat lulus. Proses manipulasi berikutnya terjadi saat Ujian Nasional. Ditemukan fakta, beberapa siswa membeli jawaban soal lewat "mafia" Ujian nasional. Sejumlah siswa iuran untuk membeli bersama-sama, jawaban seluruh paket dengan harga 12 juta. Jawaban kemudian dibagi siswa sesuai paket soal yang ditentukan. Trik lain adalah melalui kerjasama guru, siswa, orang tua dengan membuat skenario pembocoran, percontekan, dan distribusi contekan. Praktek ini sesungguhnya begitu vulgar dan mudah diketahui. Melihat kenyataan di atas, maka tak heran bila kejahatan korupsi dan manipulasi di negeri ini sulit dihapus. Sejak dini anak diajarkan untuk melakukan itu bahkan secara "berjamaah". Nilai-nilai luhur seperti KEJUJURAN, BERDIKARI, KEADILAN, seluruhnya dilanggar. Padahal nilai itu yang paling mendasar membentuk jatidiri generasi muda. Atas nama demi kelulusan, nama baik sekolah, takut tak mendapat murid, semua ditabrak. Dan dapat dipastikan, dalam diri anak didik yang terlibat proses ini akan tumbuh kesadaran "pemakluman" bahwa dalam mencapai sukses, manipulai dapat dilakukan. Lihat saja, para pendidik generasi bangsa toh memang mengajarkannya? Tak ada lagi batasan jelas apa yang disebut baik itu baik, yang buruk itu buruk, yang jahat itu jahat. Enerasi yang dididik demikian juga tidak akan mampu mempunyai "moral penyaring" yang cukup kuat saat menghadapi kerasnya kehidupan di masa mendatang. Keberlanjutan praktek di atas berakibat menyeluruh. Bangsa Indonesia akan jalan ditempat. Kemandegan dan kemerosotan menghantui di masa mendatang. Tatkala kebutaan dan ketidakpedulian kaum dewasa (guru, ortu, dinas pendidikan, menteri pendidikan, dll.) akan kenyataan yang memprihatinkan ini, kelak akan melihat sendiri dampak buruk yang melanda negeri yang kita cintai ini.

Penulis berusaha membongkar semua ini. Ketiadaan dukungan terasa membuat diri berjalan dalam kesepian. Di media, pembongkaran contek terjadi, tetapi yang jadi korban tetap anak dan sekolah yang menjalani praktek tersebut. Padahal sistem UN yang menjadi syarat kelulusan (baca: otoriternya Dinas Pendidikan dalam menentukan kelulusan) menjadi sistem yang memungkinkan terjadinya pembelajaran yang salah kaprah tersebut. Rasanya tidak cukup dengan doa! Aku butuh dukungan dan ide-ide cemerlang untuk menghentikan keambrugan generasi bangsa. Adakah yang mau mendengar?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...