Blog Sejarah Aneh

-londo43ver-. Powered by Blogger.

Peristiwa Pembantaian di Rawagede

Gambar Peristiwa Pembantaian di Rawagede Rawagede peristiwa pembantaian pejuang kemerdekaan mampu kata karawang gaptek dia bernama  81456 pembantaian rawagede 300 2254
Ini salah satu adegan mengerikan yang terjadi 9 Desember 1947,
30 penduduk Desa Rawagede – semua laki-laki berusia di atas 14 tahun – diperintah untuk berbaris. Tanpa peringatan, dari belakang, serdadu Belanda memberondong senapan. Satu per satu mereka rebah ke tanah.
Pembantaian sadis terjadi di sejumlah titik kampung yang kini bernama Balongsari. Hingga akhir hari, sebanyak 431 pria Rawagede tewas.

Kala itu, 300 tentara Belanda yang dipimpin Mayor Alphons  Wijnen, masuk ke Rawagede untuk satu tujuan: mencari dan menangkap Kapten Lukas Kustaryo, komandan kompi Divisi Siliwangi yang kerap membuat repot Belanda. Oleh prajurit NICA ia dijuluki ‘Begundal Karawang’.

Pemerhati sejarah, sekaligus Ketua Yayasan Rawagede, Sukarman mengatakan, Lukas adalah pejuang kemerdekaan yang luar biasa. “Dia kerap  menembak tentara Belanda, melolosi bajunya dan memakainya. Dia lalu menembaki Belanda,” kata dia.

Lukas juga dikenal piawai melaksanakan tugasnya, merebut senjata Belanda. Membajak kereta berisi senjata dan ribuan amunisi.

Suatu hari, usai menghantam Belanda di Subang, Pamanukan, sampai Cikampek, Lukas meloloskan diri dengan cara berjalan kaki. “Dia sampai di Rawagede pukul 07.00, Senin 8 Desember 1947, sehari sebelum kejadian,” cerita Sukarman.

Ia lalu mengumpulkan tentara Barisan Keamanan Rakyat (BKR) di Rawagede — merencanakan penyerangan ke Cililitan. “Sekitar jam 09.00, ada mata-mata Belanda yang tahu Lukas bergabung di Rawagede,” kata pria asli Rawagede itu.

Mata-mata itu melapor ke tangsi di Karawang, di belakang alun-alun. Pihak Kawarang yang merasa tak mampu akhirnya melapor ke Jakarta. “Sorenya pukul 16.00 keluar komando, Rawagede harus dibumihanguskan,” kata Sukarman.

Dia menjelaskan, selain faktor Lukas, Rawagede memang sudah lama jadi incaran Belanda. Sebab, wilayah ini adalah markas gabungan laskar pejuang. Ada lima laskar yakni Macan Citarung, Barisan Banteng, SP 88, MPHS, dan Hizbullah.

Posisi desa itu strategis, dilewati jalur rel kereta api, ada stasiun. Juga kemudahan logistik, di mana penduduk yang mampu bersedia menyumbangkan beras, bahan makanan untuk para pejuang, tanpa diminta.
Kembali ke cerita soal Lukas. Sehari sebelum tragedi meletus, pukul 15.00, Lukas dan pasukannya ke luar dari Rawagede. Berjalan kaki ke arah Sukatani. “Ia tidak tahu peristiwa Rawagede,” kata Sukarman. Tidak mengetahui  pasukan Belanda membantai warga, menjebol dan membakar rumah-rumah di desa itu. Membuat sungai menjadi merah dialiri darah.

Salah satu penyebab pembantaian adalah, tak ada satu pun warga yang menjawab pertanyaan serdadu Belanda: di mana Lukas, di mana para pejuang. Mereka memilih bungkam, meski mengetahuinya.
Sukarman mengaku, ia bertemu dengan Lukas di awal tahun 1990-an. Mereka syuting dokumenter soal Rawagede. Lukas juga datang saat Monumen Rawagede diresmikan tahun 1995. “Beliau meninggal 8 Januari 1997. Pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Jenderal,” kata dia.

Sukarman menambahkan, Lukas berkali-kali memohon maaf pada warga Rawagede. “Dia memohon maaf, karena ulah dia bergabung, terjadi pembantaian,” kata dia.

Namun, tak ada warga yang dendam. Apalagi, dulu Rawagede memang jadi incaran Belanda. Ada lagi tentang Lukas yang selalu diingat. “Tiap kali ke monumen Rawagede, dia lihat patung  tentara Belanda, pasti dia nonjokin mulu. Kalau nggak pakai kaca, mungkin patung itu sudah hancur,” kata Sukarman. “Sebelum meninggal, istrinya selalu hadir tiap tanggal 9 Desember, mengenang tragedi Rawagede.” (umi)


Di Persimpangan Rawagede
Belanda saat ini bukan hanya korban kejahatan perang. Negeri Van Oranye ini juga secara resmi ”dikukuhkan” sebagai penjahat perang oleh Pengadilan Sipil Den Haag pada 14 September 2011. Mau tak mau, Belanda harus memberikan kompensasi terhadap keluarga korban pembantaian dan meminta maaf secara resmi atas peristiwa berdarah tersebut. Namun, kenyataan ini jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. Keadilan masih jauh dari harapan dan terus diperjuangkan oleh para korban dan keluarganya.
Mengikuti proses gugatan sembilan janda di Belanda ini sangat menarik. Belanda sedang diuji konsistensinya sebagai negara demokratis dan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Belanda membuktikan hal itu. Kejahatan tetaplah kejahatan meski hal itu dibalut dengan nama ”kepentingan nasional”. Di sisi lain, proses tersebut juga jadi tantangan bagi penegakkan hukum di Indonesia, terutama terhadap pelanggaran HAM yang berat di masa lalu. Dua negara ini sejatinya sedang diuji komitmennya terhadap penegakkan hukum atas suatu peristiwa masa lalu nan kelam.

Terkabulnya gugatan para janda korban peristiwa Rawagede 64 tahun silam membuktikan tiadanya impunitas bagi pelanggaran HAM di negeri Ratu Beatrix ini. istilah ”kadaluarsa” dalam soal pelanggaran berat HAM tak dikenal dalam kamus hukum negeri kincir angin ini. Keadilan harus ditegakkan meski hal itu ”merugikan” negara sebagai wujud komitmen terhadap HAM. Sesuatu yang banyak didambakan para pecinta keadilan di Indonesia yang mengaku sebagai negara demokratis dan menjunjung tinggi HAM ini.

Tragedi Rawagede terjadi pada 9 Desember 1947 pukul 04.00 WIB. Saat itu, 300 serdadu Belanda mencari pejuang Indonesia, Kapten Lukas Kustaryo. Dipimpin Alphons Wijnen, para serdadu menggeledah rumah-rumah penduduk. Setiap orang yang ditemukan, terutama laki-laki, dikumpulkan di tanah lapang untuk ditanya tentang keberadaan Kapten Lukas, dan semua membisu. Pemimpin tentara Belanda kemudian memerintahkan untuk menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja belasan tahun. Hari itu tentara Belanda membantai 431 penduduk Rawagede yang semuanya laki-laki. Sementara Belanda dalam Nota Ekses tahun 1969 mengatakan jumlah korban hanya 150 orang.

Kemenangan para janda korban pembantaian Rawagede ini membuat hati miris. Apalagi kalau bukan tentang cerita panjang pelanggaran HAM di Indonesia dan bagaimana penegakkannya hingga sekarang. saya yakin, para korban pelanggaran HAM masa lalu punya naluri sama, ingin ada keadilan atas suramnya sejarah kekuasaan di Indonesia. Deretan kekerasan sudah hiasi negeri ini dan semunya tanpa penuntasan. Jauh sekali dengan apa yang terjadi di Belanda.

Aksi kamisan yang rutin diadakan oleh para korban dan atau keluarga korban pelanggaran HAM masa lalu bisa jadi bukti nyata. Itikad baik untuk menuntaskan kejahatan negara di masa lalu masih cukup jauh. Tak usah bayangkan ada proses hukum, aksi di depan Istana ini tak pernah ditengok sekali pun oleh presiden. Slogan sebagai negara demokratis dan junjung tinggi HAM seolah-olah dimentahkan sendiri oleh penguasa. Sebuah persimpangan tentang apa yang terjadi di Belanda dan Indonesia dalam hal penegakkan hukum.

Cerita dari Wamel
Tragedi Rawagede tak hanya menyisakan duka bagi para keluarga korban. Pelaku tindak kekerasan pun mengalami hal sama, tersiksa bathinnya jika kenangan Rawagede muncul dari ingatannya. Bayangan atas peristiwa sadis tersebut terus menghantuinya. Adakah hal serupa terjadi di Indonesia? Inilah surat anonim sebagai buah pernyataan bersalah atas tragedi Rawagede yang saya kutip dengan lengkap dari Ranesi.

Wamel Rawa Gedeh
Namaku tidak bisa aku sebutkan, tapi aku bisa ceritakan kepada Anda
apa yang sebenarnya terjadi di desa RAWA GEDEH.
Anda tahu, antara tahun 1945 – 1949, kami mencoba merebut kembali jajahan kami di Asia Tenggara. Untuk itu dari tahun 1945 sampai 1949,  sekitar 130.000 tentara Belanda dikirim ke bekas Hindia Belanda, sekarang Indonesia. Di sana terjadi berikut ini:

Di Jawa Barat, timur Batavia, di daerah Krawang, ada desa Rawa Gedeh. Dari arah Rawa Gedeh tentara Belanda ditembaki. Maka diputuskanlah untuk menghajar desa ini untuk dijadikan pelajaran bagi desa-desa lain.
Saat malam hari Rawa Gedeh dikepung. Mereka yang mencoba meninggalkan desa, dibunuh tanpa bunyi (diserang, ditekan ke dalam air sampai tenggelam; kepala mereka dihantam dengan popor senjata dll)
Jam setengah enam pagi, ketika mulai siang, desa ditembaki dengan mortir. Pria, wanita dan anak-anak yang mau melarikan diri dinyatakan patut dibunuh: semuanya ditembak mati. JUMLAHNYA RATUSAN.
Setelah desa dibakar, tentara Belanda menduduki wilayah itu. Penduduk desa yang tersisa lalu dikumpulkan, jongkok, dengan tangan melipat di belakang leher. Hanya sedikit yang tersisa. Rawa Gedeh telah menerima ‘pelajarannya’.
Semua lelaki ditembak mati – kami dinamai ‘Angkatan Darat Kerajaan’.
Semua perempuan ditembak mati – padahal kami datang dari negara demokratis.
Semua anak ditembak mati – padahal kami mengakunya tentara yang kristiani
Pekan adven 1947
Sekarang aku siang malam teringat Rawa Gedeh, dan itu membuat kepalaku sakit dan air mataku terasa membakar mata, terutama kalau aku teringat anak-anak yang tangannya masih terlalu pendek untuk melipat tangan di belakang leher, dan mata mereka terbelalak, ketakutan dan tak faham.
Aku tidak bisa menyebut namaku, karena informasi ini tidak disukai kalangan tertentu.
Tapi mungkin dari Wamel, justru dari Wamel, akan muncul inisiatif.
Aku tidak tahu bagaimana.
Parsifal

*Wamel merupakan sebuah desa di propinsi Gerderland, Belanda Timur. Desa ini pada tanggal 20 September 1944 diserbu tentara Jerman. 14 warga sipil tewas dibunuh secara keji oleh tentara Jerman. Sekarang di sana dibangun monumen peringatan. Uniknya di antara nama-nama yang tercantum pada monumen, terdapat satu nama satu korban kekejaman perang di Hindia Belanda.

Sumber: http://hukum.kompasiana.com/2011/09/15/di-persimpangan-rawagede/
0 Komentar untuk "Peristiwa Pembantaian di Rawagede"

Jangan lupa Komennya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back To Top